Sabtu, 01 Juni 2013

Warna Hijau Dalam Al-Qur'an


Ada banyak kata "hijau" di dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan menjelaskan akan keadaan penghuni jannah ataupun segala yang ada disekelilingnya, berupa kenikmatan, suasana, kesenangan, ketenangan jiwa. Kita mendapati di dalam surat Al-Rahman:

Mereka bertelekan (bertelekan: tiduran menyamping, tubuh lurus, dengan salah satu tangannya dilipat dan telapak tangannya menyangga kepala -pent) di atas bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah (QS. Al-Rahman: 76)

Mereka mengenakan pakaian sutra halus yang hijau, dan sutra tebal, serta dipakaikan gelang dari perak kepada mereka. Dan Rabb mereka memberi minum mereka dengan minuman yang suci (Q.S. Al-Insan: 21)

Mereka mengenakan pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal (Q.S. Al-Kahf: 31)

Salah seorang pakar psikologi, Ardatsham, mengatakan, "Sesungguhnya pengaruh warna terhadap manusia sangat besar, dan saya pernah melakukan sejumlah penelitian dan menjelaskan bahwa warna berpengaruh terhadap kejiwaan dan semangat serta vitalitas kita; merasa panas; atau dingin; atau nyaman; atau bahagia; bahkanbisa berpengaruh terhadap kepribadian seseorang dan berpengaruh terhadap menyikapi kehidupan.

Dan warna bias menjadi sebab relung jiwa yang dalam terpengaruh dengannya. Sebuah rumah sakit pernah mengundang sejumlah pakar untuk memberikan saran bagi warna dinding ruang pasien atau warna dinding rumah sakit, sehingga bisa banyak membantu dalam mengobati mereka. Rumah sakit juga meminta saran tentang warna yang terbaik untuk pakaian pasien. Sejumlah percobaan telah membuktikan bahwa warna kuning bisa membangkitkan semangat di syaraf pusat. Adapun warna ungu bisa membangkitkan ketenangan;

Adapun warna biru, maka orang yang melihatnya akan merasa dingin. Sebaliknya, warna merah maka orang akan merasa panas atau gersang. Dan para pakar tersebut mengatakan bahwa warna yang bisa membangkitkan kebahagiaan, gembira, bersemangat hidup (bergairah) adalah warna hijau.

Oleh karena itu, warna yang utama dan sesuai untuk kamar atau ruang operasi, pakaian para ahli bedah dan pakaian pasien adalah warna hijau. Sebuah pengalaman unik akankami kemukakan di sini bahwa ada sebuah pengalaman yang terjadi di London, Inggris, di kawasan Black Fryer yang dikenal dengan "kawasan bunuh diri" karena mayoritas kejadian bunuh diri banyak terjadi di kawasan ini. Kemudian diadakan perubahan warna dari warna gelap gurun ke warna hijau metalik. Denganhal ini ternyata terjadi penurunan jumlah kejadian bunuh diri dengan sangat signifikan. Warna hijau juga bisa menjadikan pandangan mata nyaman.

Sumber: ( Kitab: Ma'a Al-Thib fii Al-Qur'an Al-Karim, Dr. Abdul Hamid Diyab, Dr. Ahmad Qarquz, Mu'assasah Ulum Al-Qur'an, Dimasyq. )

Senin, 06 Mei 2013


Hasil Investivigasi kelas VIIA
Menghitung Jumlah Sumbangan gas CO2 dari Sepeda motor
Di daerah perempatan SMP Al Qolam Muhammadiyah
Objek penelitian : sepeda motor
Perhitungan volume gas CO2 yang disumbangkan:
Bensin memiliki komposisi terbanyak berupa senyawa oktana (C8H18)
Sehingga rekasi pembekaran bensin adalah sebagai berikut:
C8H18 (l)                +    12 ½ O2 (g)                    8 CO2 (g)              +             9 H2O (g)
Perbandingan koefisien rekasi = 1: 12 ½ : 8 : 9
Perbandingan volume              = 1: 12 ½ : 8 : 9
Diasumsikan volume bensin yang digunakan untuk melewati jalan di persimpangan SMP Al Qolam sebanyak 1 tetes (setara dg 1 mL).
Maka jumlah gas CO2 yang dihasilkan bisa dihitung dengan rumus =
Jml gas CO2 = jml kendaran yang lewat x 8 mL
Data Hasil Investivigasi
Kelompok
Jml kendaraan yang lewat (10 menit)
Jmlah CO2
Total
I
104 (jalan per4 - pasar gemolong)
0,832 L
2,464 L CO2
II
84  (jalan per4 – TK Aisyiyah)
0,672 L
III
120 (jalan per4 – Kec. Gemolong)
0,96 L

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa gas CO2 yang disumbangkan dalam 10 menit di daerah per4 SMP Al Qolam sebanyak 2, 464 L.

Jumat, 19 April 2013


Membangun Tradisi Membaca, Kunci Utama Menjadi Penulis Buku (3)

Mengatasi Keenganan Membaca
   
Membangun tradisi membaca tidak seperti “main sulap”, sim salabim aba kadabra langsung suka membaca. Tidak. Tapi ia harus dibangun dan dibiasakan. Bagi yang sudah terbiasa membaca sejak kecil sih, tidak ada masalah. Tapi, bagi yang tidak terbiasa membaca sejak kecil, sulit sekali untuk punya tradisi membaca. Keinginan sih ada, tapi baru lihat buku saja, apalagi yang tebal, sudah bete dulu. Atau baru membaca dua atau tiga halaman buku, sudah ngantuk.

Survei membuktikan, tak banyak orang yang memiliki tradisi membaca. Banyak yang lebih memilih tradisi mendengar dan menonton. Padahal, tradisi membaca lebih baik dibanding dengan hanya sekedar menonton dan mendengar. Informasi yang diserap dari kerja membaca jauh lebih efektif dan mengendap ketimbang yang diperoleh dari mendengar dan menonton.

Dalam bahasa Hernowo di bukunya Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, gizi membaca buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang diperoleh dari telinga (mendengar) dan mata (melihat). Sebab, hanya lewat membaca bukulah kita mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita.

Dan, manfaat lainnya, membaca buku akan membuat seseorang tetap berpikir. Seorang peneliti dari Hanry Ford Health System bernama Dr. C. Edward Coffey, sebagaimana dikutip Hernowo, membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku, seseorang akan terhindar dari penyakit demensia.

Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak. Apabila seseorang terserang demensia, dapat dipastikan akan mengalami kepikunan atau (dalam bahasa remaja disebut) “tulalit”.

Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termudah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga 80 tahun yang tak terkena demensia.

Lalu bagaimana mengatasi keengganan membaca? Hernowo yang kini menjabat General Manajer Editorial Penerbit Mizan mempunyai kiat-kiat jitu. Dalam bukunya Andaikan Buku Sepotong Pizza ia mengungkapkan kiat-kiat itu. Berikut ini intisari kiat-kiat itu.

1. Mengubah Paradigma Membaca : Menganggap Buku Sebagai Makanan
“Kunci” untuk membuka gembok keengganan membaca buku adalah paradigma. Apa itu paradigma ? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi ? Anda akan merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul karena Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: “Wah, boring deh baca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali baca buku ilmiah, saya pasti ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”

Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam membaca buku. Nah, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kaca mata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkan apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi. Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita mengantuk, pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dahulu siapa pengarang buku tersebut. Atau, Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah mereka untuk menunjukkan lebih dahulu hal-hal yang menarik yang ada di buku itu.
Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca pada pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, pada sore hari, tambah 10 halaman.

2. Membaca dengan Gaya SAVI
Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku Anda—bahwa membaca buku seperti memakan pizza—cobalah mulai membaca buku-buku ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku, Dave Maier dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook, menyajikan tip-tip menarik.

Meier menamai tip-tipnya ini “metode belajar gaya SAVI”. SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silahkan menggunakan gaya SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk berikut.

Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat membaca, cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah membaca 5 atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala Anda. Setelah itu, baca kembali buku Anda.

Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih bila Anda menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah, telinga Anda akan membantu mencernanya.

Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan kemampuan dahsyat Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Cobalah bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu, gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.

Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca. Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda. Akan lebih bagus apabila—saat merenung itu—Anda juga mencatat hal-hal penting yang Anda peroleh dari halaman-halaman sebuah buku. Insya Allah, Anda akan dimudahkan dalam menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.

Kiat-kiat di atas hanyalah beberapa petunjuk praktis yang diharapkan dapat membantu memotivasi Anda untuk tak lagi enggan membaca buku. Agar hasilnya lebih bagus, penguatan internalisasi akan pentingnya membaca dalam kehidupan harus dilakukan. Agar pembacaan Anda lebih bermakna. Sehingga aktivitas membaca akan lebih langgeng dan bukan semata bertujuan karena Anda ingin menjadi seorang penulis buku.

Dorongan ingin (menjadi) penulis buku, dengan demikian, hanya satu saja dari sekian dampak positif yang akan Anda dapatkan dengan tradisi membaca yang kuat. Itu pun harus diniati, menulis bukunya untuk berdakwah: menyampaikan kebenaran, mengajak manusia kepada jalan yang lurus, dan menghindarkan manusia dari jalan hidup yang sesat. Untuk itu, mari kita baca dan tafakkuri kembali wahyu pertama Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 agar kita senantiasa mengingat bahwa aktivitas membaca adalah pesan penting pertama Al-Quran yang sudah selayaknya kita sambut untuk menjadi bagian dalam hidup kita.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).***


by Badiatul Muchlisin Ast

Rabu, 17 April 2013


PENDAHULUAN
Oleh: Ahmad Rifa’i
            Dalam pengambilan dalil dari hadits sangat penting melihat kedudukan hadits. Ada beberapa hadits yang memmpunyai kedudukan kuat (shohih), lemah, dan hasan. Dalam hal ini sangat penting dipahami tentang bagaimana kedudukan suatu hadits dapat dikatakan hadits yang shohih, hasan, maupun dhaif. Dalam diskusi para ulama hadits terdapat perbedaan dalam mengklasifikasikan suatu hadits. Ada yang mengklasifikasikan hadist berdasarkan banyaknya priwayat yaitu ; hadist mutawatir, hadits masyhur, dan hadits khabar ahad.[1] Ada juga ulama hadits yang mengklasifikasikan menurut segi kualitasnya yaitu ; hadits maqbul(shahih, hasan) dan hadits mardud (dlaif).[2] Ulama salaf juga ada yang mengklasifikasikan hadits dari segi pertalian sanad yaitu ; hadits mutawatir, hadits masyhur (mustafild), hadits ahad ( hadits khashshah) yang bersambung-sambung sanadnya, dan hadits yang rangkaian sanadnya tidak ada yang gugur tidak bersambung.
Pada makalah ini akan fokus membahas pembagian hadits menurut segi diterima atau tidaknya yang didasarkan pada kuat lemahnya hadits. Lemah kuatnya (kualitas)  hadits-hadits tersebut akan dijelaskan dengan berbagia argumen yang mendasarinya. Harapan yang diinginkan setelah penulis menulis makalah ini dan mempresentasikannya adalah untuk lebih memahami tentang kuat lemahnya hadits sehingga dalam penmilihan dan penggunaan dalil dapat secara baik dan tidak tersesat. Wallahu a’lam

PEMBAHASAN
A.  Flash back tentang klsifikasi hadits
            Dalam penjelasan sebelum makalah ini, telah dibahas tentang pembagian hadits menurut banyaknya jumlah perawinya yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits mutawatir sudah barang tentu shahih sedangkan untuk hadits ahad belum tentu semua shahih. Dari hadits ahad inilah terdapat klasifikasi yang mengharuskan dilakukannya penyelidikan dan pemeriksaan yang seksama, mengenai identitas (kelakuan dan keadaan) para rawinya, di samping keharusan mengadakan penyelidikan mengenai hal-hal lain, agar hadits ahad tersebut dapat diterima atau ditolak, bila ternyata terdapat cacat-cacat yang menyebabkan penolakan.[3]
B.  Pembagian Hadits dari Segi Kualitas
Para ulama’ hadits pada awalnya membagi hadits ahad menjadi dua term yaitu hadits maqbul dan hadits mardud dari segi diterima atau ditolaknya. Hadits maqbul merupakan hadits yang telah sempurna syarat-syarat penerimanya. Hadits maqbul ini memuat hadits-hadits shahih dan hasan baik lidzatihi maupun lighairihi.[4] Sedangkan hadits mardud merupakan hadits yang tidak diterima menjadi hujjah, karena terdapat sifat-sifat tercela rawi-rawinya atau pada sanadnya. Hadits mardud ini mencakup hadits-hsdits dlaif.[5]

Hadits Maqbul
1.      Hadits shahih
a.      Ta’rif (pengertian)
Yang dimaksud hadits shahih menurut muhadditsiyn, ialah :
“hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber’illat, dan tidak janggal.”[6]
Menurut Abu Amr ibn ash-Shalah mengatakan :
“hadits shahih adalah musnad yang sanadnya mutashil melalui periwayatan yang orang yang adil lagi dhabit dari orang yang adil lagi dhabit (pula) sampai ujungnya, tidak syadz, dan tidak mu’allal (terkena ‘illat).”[7]
Definisi yang diambil secara umum tentang hadits shahih  yaitu :
“hadits yang mutashil sanadnya melalui periwayatan perawi tsiqat dan perawi (lain) yang tsiqat pula, sejak awal akhir sanad tanpa syudzudz dan tanpa ‘illat.”[8]
b.      Syarat-Syarat Hadits Shahih
Menurut ta’rif muhadditsiyn bahwa suatu ahadits dapat dinilai sahih, apabila telah memenuhi lima syarat yaitu :
a)      Rawinya bersifat adil
Menurut Al-Irsyad menta’rifkan perkataan “adil” itu adalah : berpegang teguh kepada pedoman-pedoman adab-adab syara’.  Keadilan rawi menurut Ibnu’s Sam’any, harus memenuhi empat syarat yaitu :
~  selalu memelihara perbutan that dan menjauhi perbuatan maksiat
~  menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun.
~ tidah melakukan perkara-perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada qadar dan mengakibatkan penyesalan.
~  tidak mengikuti pendapat salah satu mahzab yang bertentangan dengan dasar syara’.[9]
b)      Sempurna ingatan (dhabit)
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, perawi yang dhabit adalah mereka yang kuat hafalannya terhadap segala sesuatu yang pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut manakala diperlukan.
Pengertian dhabit terdiri atas dua kategori yaitu dahabit As-sadr dan Fi al-kitab. Dhabit As-sadr ialah terpeliharanya periwayatan dalam ingatan, sejak dari menerima hadits sampai meriwayatkannya kepada kepada orang lain. Sedangkan dhabit fi al- kitab ialah terpeliharanya kebenaran periwayatan melalui tulisan.[10]
c)      Sanadnya tidak putus (sanad bersambung-sambung)[11]
Sanad bersambung-sambung ialah sanad yang selamat dari keguguran. Dengan kata lain, bahwa tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang memberi.[12]
d)     Hadits itu tidak ber’illat
Kata ‘illat bentuk jamak adalah ‘ilal atau al-‘ilal secara bahasa berarti cacat, penyakit, kesalahan baca. Menurut istilah ‘illat berarti suatu sebab tersembunyi, sehingga dapat merusak keshahihan hadits. ‘illat dapat terjadi di sanad maupum matan. Tetapi kebanyakan pada sanadnya.[13]
e)      Tidak ada syadz
Menurut imam Asy-Syafi’i syadz atau Syudzudz (bentuk jamak Syadz) adalah suatu hadits yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah.[14]
Menurut Jumhur Al-Muhadditsiyn, bahwa suatu hadits dinilai shahih bukanlah tergantung pada banyaknya sanad. Suatu hadits dinilai shahih cukup kiranya kalau sanadnya atau matannya shahih, kendatipun rawinya itu hanya seorang saja pada tiap-tiap thabaqat.
c.       Pembagian Hadits Shahih[15]
Hadits shahih terbagi menjadi dua bagian yaitu berdasarkan kedhabitan perawinya  :
a)      Shahih Li-dzatihi
Shahih li-dzatihi adalah hadits shahih yang memenuhi syarat-syaratnya secara maksimal yaitu hadits yang dijelaskan diatas.
b)      Shahih Li-ghairihi
Shahih li-ghairihi adalah hadits yang keshahihannya ada faktor lain, karena tidak memenuhi syarat secara maksimal. Kedhabitan perawi kurang sempurna.
d.      Tingkatan Sanad Hadits Shahih[16]
a)      Ashah Al-Asanid (paling tinggi derajatnya).
~  diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Salim bin Abdullah bin Umar dari Umar.
~  diriwayatkan oleh Sulaiman al-A’masy dari Ibrahim an-Nakha’iy dari ‘Al-qamah ibn Qais dari Abu Abdullah ibn Mas’ud.
~ menurut imam Bukhari diriwayatkan olah Imam Malik ibn Anas dari Nafi Maula ibnu Umar dari Umar.
b)      Ahsanul Al-Asanid, diriwayatkan oleh Hammad bin Salmah dari Sabit dari Anas.
c)      Adhaful Al-Asanid, diriwayatkan oleh Suhail bin Aby Shalih dari bapaknya Abu Hurairah.
e.       Tingkatan Hadits Shahih[17]
Hadits yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim (Mutafaqun ‘alaih), hadits yang ditakhrij (dikeluarkan) oleh imam Bukhari sendiri, hadits yang ditakhrij oleh imam muslim sendiri, hadits yang ditakhrij atas dasar syarat Bukhari tetapi Bukhari tidak mentakhrijnya, hadits yang ditakhrij atas dasar syarat imam muslim akan tetapi imam Muslim tidak mentakhrijnya, dan hadits yang ditakhrij oleh para imam selain Bukhari dan muslim tanpa berpegang pada syarat-syarat keduanya17.
f.       Karya Kitab-Kitab Shahih[18]
a)      Imam Bukhari  ; Shahih Bukhari
b)      Imam Muslim  ; Shahih Muslim
c)      Empat kitab Sunan ;  Sunan Abu daud, Imam Tirmidziy, Imam Nasa’iy, Imam Ibn Majah al-Quzwainiy.
d)     Musnad Imam Ahmad
2.      Hadits Hasan
a.      Ta’rif (pengertian)
Hadits hasan, ialah :
hadits yang bersambung-sambung sanadnya, yang diriwayatkan oleh orang tidak mempunyai derajat kepercayaan yang sempurna.”
Hadits hasan di bawah derajat hadits shahih. Bila bertentangan, maka didahulukan hadits shahih.
Menurut imam Ibnu Taimiyah :
hadits yang banyak jalan datangnya, tak ada dalam sanadnya orang yang tertuduh dan tidak pula syadz.”[19]
Definisi yang secara umum dipilih untuk hadits hasan adalah:
hadits yang mutashil sanadnya yang diriwayatkan oleh perawi adil yang lebih rendah kedhabitannya tanpa syadz dan tanpa ‘illat.”[20]

b.      Syarat-Syarat Hadits Hasan[21]
a)      Sanadnya bersambung
b)      Perawinya adil
c)      Perawinya dhabit, tetapi kedhabitannya di bawah kedhabitan perawi hadits shahih
d)     Tidak ada syadz
e)      Tidak ada ‘illat
c.       Jenis-Jenis Hadits Hasan[22]
a)      Hasan Li dzatihi, adalah kehasanannya muncul karena memenuhi syarat-syarat tertentu, bukan karena faktor diluarnya. Pengertian makana li dztihi sama dengan li dzatihi pada hadits shahih.
b)      Hasan Li ghairihi, adalah hadits yang di dalamnya terdapat perawi “mastur” yang belum tegas kualitasnya, tetapi bukanlah perawi yang pelupa atau sering melakukan kesalahan dalam riwayat-riwayatnya, bukan muttahan bi al-kadzib dalam hadits juga bukan karena sebab lain yang dapat menyebabkan tergolong fasik, dengan syarat mendapatkan pengukuhan dari perawi lain yang mu’tabar, baik berstatus mutabi’ maupun syahid.
d.      Martabat Hadits Hasan
Tinggi rendahnya martabat hadits hasan, terletak pada tinggi rendahnya kedhabitan dan keadilan para perawinya. Hadits hasan yang bermartabat tinggi yaitu yang bersanad Ahsanu al-asanid. Kemudian dibawahnya, ialah hadits hasan li dzatihi dan yang terakhir adalah hadits hasan li ghairihi.[23]
e.       Naiknya Haditas Hasan ke Derajat Shahih
Bila suatu hadits hasan diriwayatkan dari jalur lain, maka ia menjadi kuat dan naik dari derajat hasan menuju derajat shahih. Karena perawi hadits hasan berada di bawah derajat perawi yang sempurna hafalannya, namun tetap berlaku adil. Sisi kekurangan daya hafal yang dikhawatirkan telah sirna dengan adanya jalur lain atau jalur-jalur lain yang menyumbat kekurangan itu dan naik dari hasan ke shahih, karena masing-masing mengukuhkan.[24]
3.      Kehujjahan Hadits Shahih dan Hadits Hasan
Hadits shahih dan hadits hasan merupakan hadits maqbul yang dapat terima dan dapat dijadikan hujjah.[25] Tetapi untuk hadits hasan kehujjahannya berada di bawah hadits shahih. Jika terdapat kontradiksi antara hadits shahih dan hadits hasan, maka hadits shahih didahulukan.[26]
  
Hadits Mardud
Penjelasan hadits mardud mencakup pembahasan tentang hadits dlaif. Kata dlaif menurut bahasa berarti lemah. Berarti hadits dlaif merupakan hadits yang lemah.
Hadits Dlaif
1.      Ta’rif (pengertian)[27]
Menurut An-Nawawi mendefinisikan dengan :
hadits yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan syarat-syarat hadits hasan.”
Ulama’ lain menyebutkan hadits dlaif ialah :
“hadist yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.
2.      Pembagian Hadits Dlaif
a.      Dari Segi Persambungan Sanadnya
a)      Hadits Mursal
Menurut ulama’ fiqih dan ushul adalah hadits yang perawinya melepaskanya tanpa menjelaskan sahabat yang ia ambil riwayatnya. Menurut ahli hadits, hadits mursal adalah hadits yang dimarfu’kan oleh seorang tabi’iy kepada Rasul SAW, baik berupa sabda, perbuatan maupun tqriri, baik tabi’iy kecil atau besar.[28]
b)      Hadits Munqathi’
Hadits munqathi’ ialah hadits yang dalam sanadnya gugur satu orang perawi dalam satu tempat atau lebih. Jadi, setiap hadits yang dari sanadnya gugur satu orang perawi baik di awal, di tengah ataupun di akhir merupakan hadits munqathi’.[29]
c)      Hadits Mu’dlal
Hadits Mu’dlal ialah hadits yang gugur dua orang perawi berturut-turut dipertengahan sanad. Menggurkan perawi semacam ini disebut I’dlal.[30]
b.      Dari Segi Sandaranya[31]
a)    Hadits mauquf, ialah hadits yang diriwayatkan dari para sahabat, yaitu berupa perkataan, perbuatan, atau taqrirnya, baik periwayatannya itu bersambung atau tidak.
b)   Hadits Maqtu’, ialah hadits yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepada beliau, baik perkataan maupun perbuatan. Maqtu’ lebih lemah dari mauquf sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.
Para ulama’ menyebut hadits mauquf dan maqtu’ ini sebagi  al-atsr dan al-khabar.
c.       Dari Segi-Segi lainya[32]
Kedlaifan pada bagian ini ialah kedlaifan karena kecacatan yang terjadi  baik matan maupun pada rawinya. Kecacatn ini banyak sekali macamnya sehingga mencapai puluhan, akan tetapi pada bagian ini akan diuraikan beberapa contoh saja.
a)      Hadits Munkar, ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lemah (perawi yang dlaif) yang bertentangan dengan periwayatan orang kepercayaan.
b)      Hadits Matruk, ialah hadits yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta (terhadap hadits yang diriwayatkannya), atau nampak kefasikannya, baik pada perbuatan maupun perkataannya. Atau orang yang banyak melakukan kesalahan.
c)      Hadits Syadz, ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama.
d)     Hadits Maqlub, ialah hadits yang lafadznya tertukar pada salah seorang dari sanadnya atau nama seseorang sanadnya. Kemudian mendahulukan penyebutannya yang seharusnya disebut belakangan atau membelakangkan penyebutan yang seharusnya didahulukan atau dengan sesuatu pada tempat yang lain.
e)      Nama hadits lainya, seperti hadits mudraj, mubham, mu’allal, mudlaf, mudallas dan sebagainya.
3.      Tingkat-Tingkat Hadits Dla’if
Tingkat kedlaifan jenis-jenis hadits dla’if itu betingkat sesuai dengan kadar kedla’ifan perawinya. Misalnya hadits mauquf lebih tinggi tingkatannya daripada maqtu’ karena  lemah sandarannya.[33]
4.      Hukum Mengamalkan Hadits Dla’if[34]
a.       Hadits dla’if tidak bisa diamalkan baik mengenai fadlail maupun ahkam. Ini merupakan pendapat Ibnu al-Arabiy, Imam Bukhari dan Muslim, dan Ibn Hazm.
b.      Hadits bisa diamalkan secara multak (Abu Daud dan Imam Ahmad). Keduanya berpendapat bahwa hadits dla’if lebih kuat daripada ra’yu perseorangan.
c.       Hadits dla’if  bisa digunakan dalam masalah fadha’il, mawa’idz atau yang sejenis bila memenuhi beberapa syarat. Ibnu hajar menyebutkan syarat-syarat itu sebagi berikut :
a)      Kedla’ifan tidak terlalu.
b)      Hadits dla’if itu masuk dalam cakupan hadits pokok yang bisa diamalkan.
c)      Kita mengamalkannya tidak menyakini bahwa ia berstatus kuat, tetapi sekadar hati-hati.
5.      Peningkatan Kualitas Hadits Dla’if Karena Jumlah Sanadnya[35]
Sebab-sebab kedla’ifan perawi kembali kepada dua sebab pokok. Pertama, karena cacatnya kualitas pribadi (adalah) perawi, seperti berdusta atau tertuduh berdusta pada Rasul SAW, berdusta dalam menceritakan berita kepada orang lain, kefasikan, tidak diketahui status perawinya, berbuat bid’ah yang menjatuhkan pada kearifan dan lain-lain.
Setiap hadits yang kedla’ifannya dikarenakan oleh salah satu sebab di atas, maka banyaknya sanad tidak akan mempengaruhi dan tidak bisa mengangkat dari derajat dla’if, karena buruknya sebab-sebab itu. Tetapi kedla’ifan karena cacat kapasitas kedhabitan, yaitu pelupa, sering salah, buruk hafalan dan kekeliruan, maka banyaknya jalur bisa meningkatkan kualitas (jalur lain yang hafal perawinya bagus). Dengan demikian, haditsnya terangkat menjadi hasan li ghairihi.

[1] Drs. H Mudasir.  Ilmu Hadist. Cet I (Bandung.: Pustaka Setia, 2007), hlm 176
[2] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). hlm 14
[3] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 117
[4] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 143
[5] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 143
[6] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 117
[7] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 276
[8] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 277
[9] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 119
[10] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). hlm 14
[11] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 122
[12] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 122
[13] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 148
[14] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 147
[15] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 277
[16] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 150- 151
[17] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 151
[18] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 279
[19] Drs. H Mudasir.  Ilmu Hadist. Cet I (Bandung.: Pustaka Setia, 2007), hlm 188
[20] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 299
[21] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 154
[22] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 300
[23] Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalahu’l Hadist.  Cet I (Bandung: PT Alma’arif, 1974), hlm. 138-189
[24] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 300
[25] Drs. H Mudasir.  Ilmu Hadist. Cet I (Bandung.: Pustaka Setia, 2007), hlm 194
[26] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 300
[27] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 156
[28] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 304
[29] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 305
[30] Drs. H Mudasir.  Ilmu Hadist. Cet I (Bandung.: Pustaka Setia, 2007), hlm 197
[31] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 162-163
[32] Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu hadist.  Cet I (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 1999). Hlm. 163
[33] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 314
[34] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm 315
[35] ‘Ajaj Al Khatib, Muhammad Dr. Ushul Al Hadist Pokok-Pokok Ilmu Hadis. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007), hlm  314