Membangun Tradisi Membaca, Kunci Utama Menjadi Penulis Buku
(3)
Mengatasi Keenganan Membaca
Membangun tradisi membaca tidak seperti “main sulap”, sim
salabim aba kadabra langsung suka membaca. Tidak. Tapi ia harus dibangun dan dibiasakan.
Bagi yang sudah terbiasa membaca sejak kecil sih, tidak ada masalah. Tapi, bagi
yang tidak terbiasa membaca sejak kecil, sulit sekali untuk punya tradisi
membaca. Keinginan sih ada, tapi baru lihat buku saja, apalagi yang tebal,
sudah bete dulu. Atau baru membaca dua atau tiga halaman buku, sudah ngantuk.
Survei membuktikan, tak banyak orang yang memiliki tradisi
membaca. Banyak yang lebih memilih tradisi mendengar dan menonton. Padahal,
tradisi membaca lebih baik dibanding dengan hanya sekedar menonton dan
mendengar. Informasi yang diserap dari kerja membaca jauh lebih efektif dan
mengendap ketimbang yang diperoleh dari mendengar dan menonton.
Dalam bahasa Hernowo di bukunya Andaikan Buku Itu Sepotong
Pizza, gizi membaca buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang diperoleh dari
telinga (mendengar) dan mata (melihat). Sebab, hanya lewat membaca bukulah kita
mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita.
Dan, manfaat lainnya, membaca buku akan membuat seseorang
tetap berpikir. Seorang peneliti dari Hanry Ford Health System bernama Dr. C.
Edward Coffey, sebagaimana dikutip Hernowo, membuktikan bahwa hanya dengan
membaca buku, seseorang akan terhindar dari penyakit demensia.
Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak.
Apabila seseorang terserang demensia, dapat dipastikan akan mengalami kepikunan
atau (dalam bahasa remaja disebut) “tulalit”.
Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan
termudah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang
melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan dengan
meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga 80 tahun yang tak
terkena demensia.
Lalu bagaimana mengatasi keengganan membaca? Hernowo yang
kini menjabat General Manajer Editorial Penerbit Mizan mempunyai kiat-kiat
jitu. Dalam bukunya Andaikan Buku Sepotong Pizza ia mengungkapkan kiat-kiat
itu. Berikut ini intisari kiat-kiat itu.
1. Mengubah Paradigma Membaca : Menganggap Buku Sebagai
Makanan
“Kunci” untuk membuka gembok keengganan membaca buku adalah
paradigma. Apa itu paradigma ? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara
kita memandang sesuatu.
Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun
kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun,
Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi ?
Anda akan merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul
karena Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.
Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin
ini: “Wah, boring deh baca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali
baca buku ilmiah, saya pasti ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh
ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”
Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam
membaca buku. Nah, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma
(atau kaca mata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu
makanan untuk ruhani kita. Bayangkan apabila jasmani kita tidak diberi nasi,
telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi.
Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.
Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku
adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan
pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang
memiliki gizi lebih dibandingkan ceramah.
Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku
sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita.
Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita mengantuk, pilihlah
buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda
gemari.
Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca
semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dahulu siapa pengarang buku tersebut.
Atau, Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca
sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah mereka untuk
menunjukkan lebih dahulu hal-hal yang menarik yang ada di buku itu.
Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit,
laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah
setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca.
Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil
membaca pada pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, pada sore hari, tambah 10
halaman.
2. Membaca dengan Gaya SAVI
Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku
Anda—bahwa membaca buku seperti memakan pizza—cobalah mulai membaca buku-buku
ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku, Dave Maier
dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook, menyajikan tip-tip menarik.
Meier menamai tip-tipnya ini “metode belajar gaya SAVI”.
SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi),
Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silahkan menggunakan gaya
SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk berikut.
Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat
membaca, cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat
membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah membaca 5
atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala Anda. Setelah
itu, baca kembali buku Anda.
Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca
dengan menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih bila Anda
menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah, telinga Anda akan
membantu mencernanya.
Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan
kemampuan dahsyat Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan.
Cobalah bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu,
gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.
Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan
dengan kemampuan luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah
membaca. Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda. Akan
lebih bagus apabila—saat merenung itu—Anda juga mencatat hal-hal penting yang
Anda peroleh dari halaman-halaman sebuah buku. Insya Allah, Anda akan
dimudahkan dalam menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.
Kiat-kiat di atas hanyalah beberapa petunjuk praktis yang
diharapkan dapat membantu memotivasi Anda untuk tak lagi enggan membaca buku.
Agar hasilnya lebih bagus, penguatan internalisasi akan pentingnya membaca
dalam kehidupan harus dilakukan. Agar pembacaan Anda lebih bermakna. Sehingga
aktivitas membaca akan lebih langgeng dan bukan semata bertujuan karena Anda
ingin menjadi seorang penulis buku.
Dorongan ingin (menjadi) penulis buku, dengan demikian,
hanya satu saja dari sekian dampak positif yang akan Anda dapatkan dengan
tradisi membaca yang kuat. Itu pun harus diniati, menulis bukunya untuk
berdakwah: menyampaikan kebenaran, mengajak manusia kepada jalan yang lurus,
dan menghindarkan manusia dari jalan hidup yang sesat. Untuk itu, mari kita
baca dan tafakkuri kembali wahyu pertama Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 agar kita
senantiasa mengingat bahwa aktivitas membaca adalah pesan penting pertama
Al-Quran yang sudah selayaknya kita sambut untuk menjadi bagian dalam hidup
kita.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).***
by Badiatul Muchlisin Ast
Tidak ada komentar:
Posting Komentar